STUDI KASUS DALAM PENELITIAN PENDIDIKAN BAHASA

Minggu, 15 Januari 20120 komentar

Konsep Dasar Studi Kasus
Menurut bodgan dan Biklen (1982) studi kasus merupakn pengujian secara rinci terhadap satu latar atau satu orang subjakatau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu. Demikian pula Surachmad (1982) yang membatasi pendekatan studi kasus sebagai suatu pendekatan dengan memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan rinci.
Batasan Studi kasus meliputi :
(1) sasaran penelitian dapat berupa manusia, peristiwa, latar, dan dokumen.
(2) sasaran-sasaran tersebut ditelaah secara mendalam sebagai suatau totalitas sesuai dengan latar atau konteksnya maisng-masing dengan maksud untuk memahami berbagai kaitan yang ada diantara variabel-variabelnya.

Keuntungan Studi Kasus
Dengan menggunakan studi kasus, memungkinkan peneliti untuk membandintgkan sejumlah pendekatan yang berbeda-beda terhadap suatu masalah dengan cukup rinci untuk mengambil pelajaran yang dapat diterapkan secara umum.

Kelemahan Studi Kasus
Studi kasus sering digunakan untuk memperjelas proses yang rumit, hasilnya, dan apa yang terjadi sebelumnya. Cara ini dapat merupakan proses yang banyak menyita waktu, terutama kalau mengamati perubahan organisasi, penelitian bisa berlangsung berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Kelemahan ini ialah bahwa bagian lain dari dunia tidak menunggu hasil penelitian dan ketika terbitan itu muncul, sering sudah ditinggalkan oleh keadaan.

Jenis-Jenis Studi Kasus
Pendekatan studi kasus dalam penelitian sering dilekatkan pada penelitian kualitatif (Bogdan & Biklen, 1982; Burges, 1985).
Sifat studi kasus sebagai suatu pendekatan yang bertujuan untuk mempertahankan keutuhan objek, artinya data yang dikumpulkan dalam rangka studi kasus dipelajari sebagi suatu keseluruhan yang terintegrasi.
Studi kasus kualitatif memiliki beberapa jenis, masing masing memerlukan pertimbangan khusus untuk menetapkan apakah suatu masalah dapat diteliti dan prosedur apa yang akan digunakan.

Jenis studi kasus menurut Bogdan dan Biklen (1982) diklarifikasikan sebagai berikut:
1) Studi kasus kesejarahan mengenai organisasi dipusatkan pada perhatian organisasi tertentu dan dalam kurun waktu tertentu, dengan menelusuri perkembangan organisasinya.
Contoh :studi tentang sebuah ”sekolah bebas (free school) mensyaratkan penelusuran terhadap latar timbulnya, keadaanya pada waktu pertama, perubahan yang terjadi dalam kurun waktu tertentu, keadaanya sekarang (masih berjalan atau ditutup), data-data dapat diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi.
2) Studi kasus observasi, mengutamakan teknik pengumpulan datanya melalui observasi peran-serta atau pelibatan, sedangkan fokus studinya pada suatu organisasi tertentu atau beberapa segi organisasinya. Bagian-bagian organisasi yang menjadi fokus studinya antara lain:
(a) suatu tempat tertentu didalam sekolah;
(b) satu kelompok siswa;
(c) kegiatan sekolah.
3) Studi kasus sejarah hidup, yang mencoba mewawancarai satu orang dengan maksud mengumpulkan narasi orang pertama. Sejarah biasanya menceritakan masa lampau, yang memberikan uraian logis mengenai suatu proses perkembangan suatu peristiwa atau situasi berdasarkan akal sehat, imajinasi, keterampilan mengekspresikan diri dalam bahasa yang teratur, serta pengetahuan fakta yang berkaitan dengan proses tersebut (Kartodirdjo. 1993).
4) Studi kasus kemasyarakatan, merupakan studi tentang kasus kemasyarakatan yang dipusatkan pada suatun lingkungan tetangga atau masyarakat sekitar.
5) Studi kasus analisis situasi, jenis studi kasus ini mencoba menganalisis situasi terhadap peristiwa atau kejadian tertentu.
6) Mikroethnografi, merupakan jenis studi kasus yang dilakukan pada unit organisasi yang sangat kecil.

Studi Multi-Situs
Pada dasarnya studi multi-situs mempunyai prinsip dengan studi multi-kasus perbedaanya terletak pada pendekatan. Studi multi-kasus dalam mengamati suatu kasus berangkat dari kasus tunggal ke kasus-kasus berikutnya, sehingga kasus yang diteliti memiliki dua atau lebih. Penelitian dengan multi-situs menggunakan logika yang berlainan dengan pendekantan studi multi-kasus, karena arahnya lebih banyak untuk mengembangkan teori kecenderungan memiliki banyak situs daripada dua atau tiga. Menurut Bogdan dan Biklen (1982) pendekatan multi situs memiliki dua jenis studi, yaitu induksi analitis modifikasi dan metode komparatif konstan. Masing-masin dijelaskan sebagai berikut :
1. Induksi analitis, merupakan suatu pendekatan untuk mengumpulkan dan mengolah data maupun suatu cara untuk menmgembangnkan teori dan mengujinya. Prosedur induksi analitis dipergunakan apabila terdapat masalah, pertanyaan atau isu khusus yang menjadi fokus penelitian. Data dikumpulkan dan diolah untuk mengembangkan model deskripsi yang merangkum semua fenomena.
2. Metode komparatif konstan, merupakan rancangan penelitian untuk sumber multi-data yang sama dengan induksi analitis karena analisis formulanya dimulai pada awal studi dan hampir selesai pada akhir pengumpulan data. Menurut Glaser (dikutip Bogdan dan Biklen, 1982) untuk menyusun langkah-langkah dalam metode komparatif konstan guna mengembngkan teori adalah :
1. mengumpulkan data;
2. mencari kunci, isu peristiwa yang selalu berulang atau di dalam data yang merupakan kategori fokus;
3. kumpulkan data yang banyak memberikan kejadian (incident) tentang kategori fokus dengan melihat adanya keberagaman dimensi dibawah kategori-kategori yang sedang diselidiki;
4. tuliskan kategori-kategori yang sedang diselidiki;
5. kerjakan data dan model yang muncul untuk menemukan adanya proses-proses sosial dasar ;
6. lakukanlah dalam sampling, pengkodean, dan menulis sebagai fokus analisis.

Implementasi Penelitian Studi Kasus
Di dalam mengimplementasikan pendekatan studi kasus Bogdan dan Biklen (1982) memberikan petunjuk desain yang disajikan dalam bentuk cerobong yang menlukiskan tentang penelitian yang berawal dari eksplorasi. Berlanjut dengan aktivitas pengumpulan dan analisis data yang lebih menyempit dan terarah pada suatu topik tertentu.
Yin 1987 berkaitan dengan penelitian studi kasus memberikan saran-saran praktis kepada para peneliti kasus bahwa peneliti hendaknya:
(1) mampu memberikan pertanyaan yang jitu;
(2) menguasai massalah yang diteliti;
(3) mampu bersikap netral dan objektif
(4) mampu menulis rancang bangun studi kasus dengan baik;
(5) mampu melaksanakan studi kasus pendahuluan.

Ciri-Ciri Studi Kasus yang Baik
Ciri-ciri studi kasus yang baik berdasarkan kriteria yang diberikan Yin (1987) bahwa studi kasus yang baik adalah studi yang patut untuk dicontoh dan bersifat signifikan, lengkap menunjukan bukti-bukti yang memadai, mempertimbangkan perspektif alternatif, dan disusun dalm gaya yang menarik.
Orientasi teoritik dan pemilihan pokok studi kasus dalam penelitian kualitatif bukanlah perkara yang mudah, tetapi tanpa memperdulikan kedua hal tersebut akan cukup menyulitkan bagi peneliti yang akan turun ke lapangan. Dengan memahami orientasi teoritik dan jenis studi yang akan dipilihb maka setidaknya seorang peneliti akan mempersiapkan diri sebelum terjun dalam kancah penelitian. Di dalam penyusunan desain penelitian kedua hal tersebut hendaknya sudah dapat ditentukan, meskipun masih bersifat sementara. Untuk dapat mengatasi kesulitan dalam menentukan orientasi teoritik pemilihan pokok studi, terutama studi kasus, Guba dan Lincoln 1987 memeberikan saran sebagai berikut :
1. Bagi peneliti pemula hendaknya banyak membaca sebanyak mungkin laporan-laporan kasus yang ada sehingga mereka dapat mempelajari bagaiman para peneliti menyusunnya.
2. Mereka hendaknya bergabung dengan para penulis kasus yang baik untuk memahami bagaiman mereka bekerja.
3. Mereka harus berlatih harus menulis laporan kasus.
4. Mereka harus meminta kritik yang positif dan para ahli.

Contoh penelitian studi kasus

Judul : Kekerasan Seksual dalam Keluarga
(Kasus Pada Masyarakat Nelayan di Kabupaten Rembang)
Oleh : Drs. Ngabiyanto, M.Si
Dr. Nugrahaningsih WH, M.Kes
Drs. Suhadi, M.Si

Kekerasan (violence) secara umum dapat diartikan sebagai suatu serangan terhadap fisik dan psikis serta integritas mental seseorang (Fakih, 2000:75). Kekerasan dapat terjadi terhadap siapa saja dengan alasan apa saja. Diantara beragam alasan yang memunculkan kekerasan tersebut ada satu jenis kekerasan yang dilakukan karena keyakinan gender. Kekerasan gender dapat terjadi di dalam dan diluar rumah tangga. Pada kondisi masyarakat dengan relasi kekuasaan gender yang bersifat patriakal, maka pada umumnya korban kekerasan gender adalah kaum perempuan.
Tujuan penelitian ini untuk:
(1) mendeskripsikan permasalahan kekerasan seksual yang terjadi pada masyarakat nelayan yang meliputi jenis frekuensi dan tingkat kekerasan di Kabupaten Rembang Propinsi Jawa Tengah
(2) mengetahui dampak kekerasan seksual terhadap kasus perceraian pada masyarakat nelayan yang memiliki karakteristik budaya yang tipikal.
Lokasi penelitian di Kabupaten Rembang. Pendekatan penelitian ini menggunakan strategi studi kasus dengan subjek penelitian pada unit keluarga dan petugas pemerintah seperti polisi, pejabat pengadilan agama, tokoh masyarakat, dan lain-lain. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yaitu observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Data yang terkumpul akan dianalisis dengan menggunakan teknik yang beragam, baik tekstual maupun kontekstual, aalisis domain dan analisis konteks.
Simpulan penelitian ini (1) bentuk kekerasan seksual di masyarakat nelayan Rembang meliputi pelecehan seksual, kawin paksa dan pencabulan (2) faktor penyebab terjadinya kekerasan seksual adalah faktor kultural yang keras pada masyarakat nelayan dan karakter suami yang keras dan kasar, faktor kemiskinan dan ketidakberdayaan kultural. (3) perempuan dengan resiko korban kekerasan seksual yang tinggia dalah istri dengan usia yang tidak terbatas pada usia muda tetapi juga perempuan istri yang telah berusia lanjut (4) sebagai persoalan sosial kekerasan seksual masih belum didasari sepenuhnya oleh masyarakat baik oleh korban maupun pelaku. Sehingga dalam statistik kriminal kekerasan seksual masih merupakan dark member yang disebabkan oleh rendahnya masyarakat membawa masalah keluarga ini pada kepolisian. (5) kekerasan seksual yang menjadi penyebab peceraian adalah kawin paksa dengan jumlah kasus rata-rata per tahun empat puluh pasangan memperoleh putusan cerai dari pengadilan agama katena kasus kawin paksa.

Berdasar hasil penelitian ini dapat diajukan saran sebagai berikut :
1) Perlu ditingkatkan tentang sosialisasi kesetaraan gende pada masyarakat nelayan di Kabupaten Rembang khususnya untuk kecamatan kota.
2) Pihak Polres Rembang perlu melakukan sosialisasi tentang adanya Unit Pelayanan Khusus untuk menangani korban kekerasan yang terjadi pada anak-anak dan perempuan.


sumber:
http://www.saefuzaman.web.id/2010/12/studi-kasus-dalam-penelitian-pendidikan.html
Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Design Template | Ghenap Community
Copyright © 2012. Rembug Bareng - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger